05 November, 2009

ASERTIF

Bidang pengembangan : Sosial
Jenis Layanan : Penguasaan Konten
Fungsi Layanan : Pemeliharaan dan Pengembangan
Tugas Perkembangan : Mencapai kematangan emosi
Standard Kompetensi : Dapat mengekspresikan perasaan dalam cara-cara yang
(SKK peserta didik) bebas, terbuka, dan tidak menimbulkan konflik.

PETUNJUK BELAJAR

Untuk mengetahui materi ini anda bisa membaca referensinya di perpustakaan BK atau melalui internet

KOMPETENSI YANG AKAN DICAPAI
Setelah memperoleh layanan ini, diharapkan siswa dapat :
1. Mengekspresikan perasaan,pikiran,pandangan/keyakinannya dalam pergaulan sehari-hari dengan bersikap asertif
2. mampu mendemonstrasikan perilaku asertif
3. Mempraktekkan dan berlatih bersikap asertif dalam kehidupan sehari-hari
4. Mengembangkan perilaku asertif di rumah, sekolah , maupun di masyarakat

INFORMASI PENDUKUNG
PENGERTIAN
Asertif ? Mungkin ada yang belum pernah mendengar kata ini, Asertivitas adalah suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain. Dalam bersikap asertif, seseorang dituntut untuk jujur terhadap dirinya dan jujur pula dalam mengekspresikan perasaan, pendapat dan kebutuhan secara proporsional, tanpa ada maksud untuk memanipulasi, memanfaatkan atau pun meru gikan pihak lainnya.
Kemampuan untuk bersikap asertif sangat penting dimiliki sejak dini, karena akan membantu kita untuk bersikap tepat menghadapi situasi dimana hak-hak kita dilanggar. Sikap asertif berbeda dengan sikap agresif.
Kita bersikap asertif ketika kita mampu untuk berkata "tidak", mampu meminta pertolongan, mampu mengekspresikan perasaan positif dan negatif secara wajar, dan mampu berkomunikasi tentang hal-hal yang bersifat umum. Jadi, asertif adalah kemampuan mengekspresikan hak, pikiran, perasaan, dan kepercayaan secara langsung, jujur, terhormat, dan tidak mengganggu hak orang lain. Jadi, kita berani untuk secara jujur dan terbuka menyatakan kebutuhan, perasaan, dan pikiran dengan apa adanya tanpa menyakiti orang lain.
Sikap asertif itu perlu supaya kita lebih mengenal diri dan lebih jujur dalam membina hubungan. Dengan bersikap asertif, kita dapat belajar untuk lebih menghargai diri sendiri dan orang lain, mengekspresikan perasaan positif dan negatif, percaya diri, mau mendengarkan orang lain, mengembangkan kontrol diri, mengembangkan kemampuan untuk menolak tanpa merasa bersalah, dan berani meminta bantuan orang lain ketika membutuhkan.

CIRI PERILAKU ASERTIF

Ciri-ciri orang yang mampu berperilaku asertif antara lain (Corey, 2007):
 Mampu mengungkapkan kemarahan dan perasaan tersinggung.
 Tidak menunjukkan kesopanan yang berlebihan dan tidak selalu mendorong orang lain untuk mendahuluinya.
 Tidak mengalami kesulitan untuk mengatakan “tidak”.
 Tidak mengalami kesulitan untuk mengungkapkan afeksi dan respon-respon lainnya.
 Merasa punya hak untuk memiliki perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran sendiri.
Mendiskripsikan fakta, bukan menilai. Contoh : Penyusunan laporan ini tidak rapi.
 Tidak menggeneralisir . Contoh : Hari ini kamu terlambat 15 menit. Ini sudah yang ketiga kalinya.
 Menggunakan permulaan kata : “Saya” dan bukan “Kamu”. Contoh : Saya ingin bercerita, tetapi tanpa disela.
 Menyatakan perasaan maupun opini dengan disertai alasan yang spesifik.
Contoh : Saya marah karena ia tidak memegang janjinya.
Menurut Lazarus dalam Santosa, 1999, seorang remaja dikatakan asertif bila mempunyai kemampuan untuk: (a) berkata “tidak”, (b) meminta pertolongan, (c) mengekspresikan perasaan positif maupun negatif secara wajar, (d) berkomunikasi tentang hal-hal yang bersifat umum.
Menutur Arroba dan James (19920 dan Michael (1988), sejauh mana seseorang dapat berperilaku asertif dapat dilihat dari perilaku verbal dan perilaku asertif dapat dilihat dari perilaku verbal dan perilaku non verbal yang ditampilkannya. Ciri tersebut antara lain:
Perilaku Verbal
1. Pertanyaan yang digunakan jelas dan lugas
2. Menggunakan kalimat yang menggunakan kata ”Saya......”
3. Menggunakan kalimat terbuka
4. Membedakan kata dan opini
5. Tidak memberi saran secara berlebihan
6. Mengekspresikan ide secara positif (tidak secara dogmatis)
7. Menyadari bahwa orang lain memiliki sudut pandang pemikiran yang berbeda
8. sopan dan sungguh-sungguh dalam bertindak
9. Menghindari kata, ”Kamu seharusnya....” dan ”Kamu semestinya...”.
10. Kritik yang dilontarkan adalah kritikan yang membangun sehingga tidak menyudutkan orang lain.
11. Mengajukan pertanyaan untuk mendapatkan fakta
12. Senantiasa mencari solusi masalah yang dihadapinya
13. Menyatakan keinginannya dengan tepat dan proporsional

Perilaku Non Verbal
1. Tatapan mata dan langkah yang mantap
2. Menciptakan kontak mata yang menyenangkan
3. Ketika memalingkan muka, menoleh ke belakang dengan cepat
4. Reaksi yang mantap
5. Kepala tegak
6. Gerakan-gerakan terbuka
7. Menjaga suara tetap hangat dan pada titi nada yang mudah


APAKAH BEDANYA DENGAN AGRESIF DAN NON-ASERTIF ?

 Perilaku non-asertif
Seseorang yang berperilaku pasif adalah orang yang didominasi sikap diam dan tidak mau menunjukkan identitas mereka. Mereka tidak meminta hak mereka, mereka kurang mampu mengungkapkan ide dan gagasan mereka, mengekspresikan perasaannya, serta serba terlalu berhati-hati dalam bertindak. Seseorang dikatakan bersikap non-asertif, jika ia gagal mengekspresikan perasaan, pikiran dan pandangan/keyakinannya; atau jika orang tersebut mengekspresikannya sedemikian rupa hingga orang lain malah memberikan respon yang tidak dikehendaki atau negatif
 Perilaku Agresif
Orang yang berperilaku agresif adalah orang yang merasa bahwa haknya lebih penting dari pada orang lain. Biasanya mereka mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka dengan cara yang kurang pantas dan kurang tepat. Terkadang mereka juga merasa bahwa pendapatnya lebih baik daripada orang lain. Sikap atau pun perilaku agresif cenderung akan merugikan pihak lain karena seringkali bentuknya seperti mempersalahkan, mempermalukan, menyerang (secara verbal atau pun fisik), marah-marah, menuntut, mengancam, sarkase (misalnya kritikan dan komentar yang tidak enak didengar), sindiran ataupun sengaja menyebarkan gosip.
Agresif adalah suatu bentuk perilaku yang secara sengaja bertujuan untuk melukai orang lain secara langsung (Bloom, Coburn & Pearlman, l985; Baron & Byrne, l984).
Contoh : Kamu selalu terlambat Pekerjaanmu jelek Saya benci kamu

MENGAPA ORANG ENGGAN BERSIKAP ASERTIF ?

Menjadi asertif bukanlah hal yang mudah, karena dalam bersikap asertif seseorang dituntut untuk jujur terhadap dirinya dan jujur pula dalam mengekspresikan perasaan, pendapat dan kebutuhan secara proposional, tanpa ada maksud untuk memanipulasi, memanfaatkan atau pun merugikan pihak lainnya. Budaya negara Indonesia yang ramah tamah, saling menghormati, dan penuh ’basa basi’ membuat kebanyakan orang menjadi enggan untuk bersikap asertif. Perasaan takut mengecewakan orang lain, berbuat tidak sopan, dan takut tidak disukai atau tidak diterima lingkungan adalah perasaan yang paling dominan timbul ketika seseorang akan bersikap asertif. Keinginan untuk tetap mempertahankan kelangsungan hubungan membuat seringkali orang membiarkan dirinya untuk bersikap non asertif (memendam perasaan, perbedaan pendapat). Padahal, kondisi ini sebenarnya justru mengancam kelangsungan hubungan karena ada salah satu pihak yang merasa dimanfaatkan maupun merasa tidak dihargai. Misalnya, di hari Minggu pagi pacar Anda menawarkan: mau main tenis atau berenang. Sebetulnya Anda ingin berenang, tetapi karena Anda tidak bisa bersikap asertif Anda bilang, terserah. Akhirnya dia yang memutuskan untuk main tenis aja. Begitu setiap hari Minggu, sampai lama-lama dia pikir Anda memang hobi main tenis seperti dia. Padahal yang terjadi sebetulnya Anda sangat tersiksa karena tenis membuat lutut dan punggungmu terasa amat sakit.
Contoh tadi itu masih berupa kasus ringan. Banyak hal serius dalam hidup ini yang menuntut kita untuk mengambil sikap yang jelas, bahkan terhadap orang yang dekat dengan kita. Di masa remaja, kita banyak mengalami tekanan atau pressure, baik dari peer (teman sebaya), lingkungan sosial maupun dari orangtua dan guru.
Dari semua itu yang dirasa paling berat dan paling mempengaruhi perilaku remaja adalah tekanan sebaya atau yang dikenal dengan istilah peer pressure. Tanpa sadar, kita mendapat tekanan untuk berpenampilan dan berperilaku seperti remaja lain. Sehingga akhirnya kita masuk pada situasi di mana kita merasa harus seperti remaja lain untuk dapat diterima dan tidak disisihkan dari pergaulan.
Banyak remaja yang melakukan hal-hal yang akhirnya mempengaruhi masa depan dan jalan hidupnya hanya karena ikut-ikutan temannya. Penelitian yang dilakukan oleh Family and Consumer Science di Ohio, Amerika Serikat, menunjukkan fakta bahwa kebanyakan remaja memulai merokok karena dipengaruhi oleh temannya, terutama sahabat yang sudah lebih dahulu merokok. Remaja yang bergaul erat dengan teman sebayanya yang merokok atau terbiasa dengan lingkungan yang merokok akan lebih mudah untuk ikut-ikutan merokok, terutama bila remaja tadi rentan terhadap tekanan sebaya. Hal yang sama juga terjadi pada penggunaan alkohol dan NAPZA, bahkan berhubungan seks dengan pacar.
Sebagian remaja memulai berhubungan seks dengan pacarnya juga karena hal ini merupakan kebanggaan tersendiri yang kemudian dapat dipamerkan kepada temannya: "Gue dong, sudah 'anu' dengan pacar gue." Perilaku seperti ini terutama biasanya dilakukan oleh pihak cowok. Sedangkan cewek biasanya tidak mau bahkan cenderung malu untuk memamerkan ke teman-temannya bahwa dirinya sudah berhubungan seks dengan pacarnya, lagi-lagi karena terdapatnya standar ganda terhadap perilaku seks laki-laki dan perempuan. Di lain pihak, ketidakmampuan untuk bersikap asertif sering berperan terhadap terjadinya hubungan seks yang sebetulnya tidak diinginkan. Contohnya saja yang sering terjadi, seorang remaja melakukan hubungan seks karena tidak berani menolak keinginan pacarnya, takut diputuskan, atau takut pacarnya malah berhubungan seks dengan orang lain.
Hal ini tentu sangat disayangkan, apalagi apabila hubungan seks tadi berdampak lebih jauh seperti terjadinya kehamilan yang tidak dikehendaki dan penularan penyakit menular seksual (PMS).
Banyak studi yang telah dilakukan oleh universitas dan lembaga penelitian di negara maju sehubungan dengan peer pressure dan kebiasaan merokok, penggunaan alkohol, Napza, serta hubungan seksual yang dilakukan oleh remaja. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa semua itu berkaitan dengan kemampuan remaja yang bersangkutan untuk bersikap asertif. Untuk memperbaiki kondisi ini, banyak lembaga bekerja sama dengan sekolah-sekolah yang memberikan pelatihan untuk meningkatkan asertivitas di kalangan remaja.

PENTINGNYA ASERTIVITAS BAGI SISWA
Bagi para siswa di sekolah terutama yang berumur di antara 13-18 tahun, sikap dan perilaku asertif sangatlah penting karena beberapa alasan sebagai berikut:
o sikap dan perilaku asertif akan memudahkan remaja tersebut bersosialisasi dan menjalin hubungan dengan lingkungan seusianya maupun di luarnya lingkungannya secara efektif.
o dengan kemampuan untuk mengungkapkan apa yang dirasakan dan diinginkannya secara langsung, terus terang maka para siswa bisa menghindari munculnya ketegangan dan perasaan tidak nyaman akibat menahan dan menyimpan sesuatu yang ingin diutarakannya.
o dengan memiliki sikap asertif, maka para siswa dapat dengan mudah mencari solusi dan penyelesaian dari berbagai kesulitan atu permasalahan yang dihadapinya secara efektif, sehingga permasalahan itu tidak akan menjadi beban pikiran yang berlarut-larut.
o asertivitas akan membantu para siswa untuk meningkatkan kemampuan kognitifnya, memperluas wawasannya tentang lingkungan, dan tidak mudah berhenti pada sesuatu yang tidak diketahuinya (memiliki rasa keingintahuan yang tinggi).
o asertif terhadap orang lain yang bersikap atau berperilaku kurang tepat bisa membantu remaja yang bersangkutan untuk lebih memahami kekurangannya sendiri dan bersedia memperbaiki kekuarangan tersebut.
o Dalam berperilaku asertif ini sangat bermanfaat dalam hal bagaimana seseorang terampil berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lain secara jujur, sabar, percaya diri, dan tanpa menyinggung perasaan orang lain.
o memahami dan mengenal diri sendiri, orang lain , tim kerja, dan organisasi
meningkatkan pola berpikir: positif, percaya diri, tegas, tulus, terbuka, etis, dan tidak menyinggung perasaan
o mengembangkan kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi secara asertif dengan orang lain dalam pergaulan, pekerjaan, dan organisasi.
o Dengan menyatakan apa adanya perasaan atau emosinya seseorang tidak akan dikendalikan orang lain, efektif dalam berinteraksi, lebih dihargai orang lain, menjadi lebih percaya diri dan memiliki rasa puas
o Meningkatkan self esteem dan percaya diri dalam
mengekspresikan diri sendiri
o Dapat bernegosiasi lebih produktif dengan orang lain
o Dapat merubah situasi kerja yang negatif menjadi positif
o Meningkatkan hubungan antar manusia dan mengurangi kesalahpahaman
o Mampu membuat keputusan dan lebih mempunyai peluang mendapatkan apa yang dicari dalam hidup.
Beberapa manfaat di atas lagi-lagi mengindikasikan perlunya sikap ini ditanamkan sejak dini bagi para siswa karena asertivitas bukan merupakan sesuatu yang lahiriah tetapi lebih merupakan pola sikap dan perilaku yang dipelajari sebagai reaksi terhadap berbagai situasi sosial yang ada di lingkungan. Asertivitas ini dalam kenyataannya berkembang sejalan dengan usia seseorang, sehingga penguasaan sikap dan perilaku pada periode-periode awal perkembangan akan memberikan dampak yang positif bagi periode-periode selanjutnya.

MANFAAT PERILAKU ASERTIF DI SEKOLAH
Individu yang asertif akan menjaga hak-haknya dan berupaya menegakkannya agar orang lain tidak melanggar hak-haknya. Di sekolah banyak situasi yang menuntut agar guru dan siswa dapat berperilaku asertif, agar hak masing-masing tidak dilanggar. Contoh tuntutan perilaku tersebut adalah :
1. Siswa dapat mengajukan pertanyaan atau permintaan karena perlakuan yang tidak adil yang ditujukan kepada siswa
2. Berbicara terus terang dan terbuka di dalam maupun di luar kelas
3. Tetap merasa nyaman untuk mengekspresikan pandangannya ketika ia tidak setuju dengan pandangan orang lain
4. Mampu untuk menerima atau setuju dengan keputusan yang telah dibuat
5. Mampu untuk menerima kritik dan pujian secara konstruktif
6. Mampu dan berkeinginan memberikan kritik dan pujian yang konstruktif
7. Mampu menangani penghinaan atau menghadapi orang lain yang melumpuhkan
8. Menghadapi keputusan-keputusan yang sulit, bukan menghindarinya
9. Saat siswa sedang mengalami stress, siswa yang memiliki perilaku asertif akan menggunakan mekanisme pertahanan diri yang efektif dan adaptif, yaitu menalar masalah yang dihadapinya secara obyektif dengan tidak menonjolkan perasaan
10. Hubungan yang dinamis antara siswa dan guru dapat berjalan dengan adanya perilaku asertif
11. Siswa dapat lebih berterus terang dalam mengungkapkan gagasan, keinginan, kebutuhan dan perasaan tanpa menyakiti orang lain
12. Siswa dapat mengenal masalah yang dihadapinya dan terbuka terhadap bantuan orang lain
13. Perilaku asertif dapat meningkatkan rasa percaya diri dan mengurangi kecemasan siswa sehingga proses belajar yang dilakukan tidak terganggu
14. Perilaku asertif membuat siswa lebih berinisiatif dan menghemat energi dalam arti perilakunya jujur dan berterus terang.

BAGAIMANA BERSIKAP ASERTIF?
Bagaimana bersikap asertif? Pertama-tama kita perlu lebih mengenal diri kita sendiri. Kembangkan sistem nilai dan kepercayaan yang membuat kita dapat bersikap asertif. Hal ini memang bagian tersulit, karena sekaligus juga berarti memberi kesempatan pada diri kita sendiri untuk marah, untuk berkata tidak dan untuk membuat kesalahan.
Langkah berikutnya adalah dengan mempelajari keterampilan bersikap asertif, mulai dari yang bersifat mendasar seperti mengungkapkan apa yang kita inginkan, kemudian juga dengan memperhatikan keinginan orang lain, tetapi tetap mampu mengemukakan apa yang kita inginkan. Tingkat yang lebih jauh adalah kemampuan untuk meningkatkan skala asersi kita pada saat kita sudah mengungkapkannya tetapi hak kita tetap dilanggar.
Sementara itu, kembangkan kemampuan komunikasi kita. Hal ini mencakup adanya kontak mata dan sikap tubuh yang terbuka dan santai pada saat kita berkomunikasi dengan orang lain. Sementara itu usahakan agar ekspresi wajah sesuai dengan pesan yang ingin kita sampaikan, nada suara mantap, dan memilih saat yang tepat.
Untuk bersikap asertif memang tidak bisa hanya dengan membaca buku melainkan memerlukan praktik dan latihan berulang-ulang. Kita juga bisa mempraktikkannya di kalangan teman atau keluarga. Mintalah bantuan mereka untuk mengevaluasi apakah kita sudah cukup asertif.
Sebagai langkah awal, kamu bisa tes asertivitas kamu dengan menjawab di bawah ini. Jawablah benar atau salah pertanyaan di bawah ini dengan jujur:



No. SoaL Jawaban Nilai
1 Saya hampir tidak pernah minta bantuan kepada orang lain
2 Saya biasanya mengalah bila berbeda pendapat dengan orang lain
3 Apabila seseorang mengganggu saya, biasanya saya tidak menanggapinya langsung, tetapi dengan menyindir
4 Saya merasa bersalah bila meninggikan suara atau berbicara dengan keras
5 Saya tidak suka menolak orang lain yang minta tolong
6 Saya merasa kesulitan memberi tahu orang bahwa saya berubah pendapat setelah sebelumnya menyetujui untuk melakukan sesuatu
7 Saya merasa malu bila orang lain mempertanyakan tindakan saya
8 Saya hanya mengemukakan pendapat saya bila saya sedang marah
9 Saya selalu mendahulukan kepentingan orang lain
10Saya berusaha keras menyenangkan orang lain
11Saya sering minta maaf bila berseberangan pendapat dengan orang lain
12Dalam diskusi di kelas, saya sulit mengungkapkan pendapat saya walaupun saya merasa bahwa pendapat saya penting
13 Bertanya kembali apabila saya tidak mengerti apa yang dikatakan orang lain membuat saya merasa bodoh
14 Saya tidak berusaha menyelesaikan masalah dan hanya berharap masalah itu akan beres dengan sendirinya.
15 Saya tidak dapat menerima kritik dengan baik. Saya biasanya marah bila seseorang mengkritik tingkah laku saya.
Jumlah :
Berikan satu angka untuk setiap jawaban betul, kemudian jumlahkan nilai yang kamu peroleh:

Nilai 0-4
menunjukkan tingkat kenyamanan kita untuk mengungkapkan perasaan dan pendapat, dan juga menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Kalau Anda menjawab betul pada beberapa pertanyaan di atas, mungkin Anda memiliki hambatan untuk bersikap asertif di satu bidang, tetapi tidak punya masalah di bidang lain. Periksa lagi pertanyaan tadi, dan pelajari situasi yang membuat Anda merasa tidak nyaman. Perbaiki situasi ini dulu untuk meningkatkan efektivitas komunikasi.

Nilai antara 5-10
menunjukkan adanya perasaan tidak nyaman untuk meminta apa yang Anda inginkan, kesulitan menolak sesuatu yang tidak kamu inginkan dan keengganan untuk mengungkapkan perasaan.

Nilai 11-15
menunjukkan bahwa Anda punya kesulitan besar untuk bersikap asertif dalam berbagai situasi. Asertivitas bukan hanya menyangkut bagaimana memperoleh apa yang Anda inginkan, melainkan juga berkomunikasi efektif dan tidak mudah mengiyakan begitu saja hal-hal yang sebetulnya tidak Anda sukai. Masalah serius dari ketidakmampuan bersikap asertif dapat mengakibatkan kita mudah dimanfaatkan orang lain. Hal ini juga merupakan tanda-tanda problem kepribadian yang serius dan mungkin membutuhkan konsultasi dengan para profesional.
Walaupun dalam bersikap asertif memang kadang-kadang sulit untuk menjaga keseimbangan antara menyatakan pendapat, keinginan dan perasaan kita dengan tetap menghormati dan bertenggang rasa terhadap orang lain, tapi kita bisa terus berusaha semampu kita. Lama-lama kita akan terbiasa, dan kebiasaan positif ini akan terbawa sampai kita dewasa kelak.

BAGAIMANA BERKATA “TIDAK”
Tips untuk mampu mengatakan “tidak” terhadap permintaan yang tidak diinginkan
• Tentukan sikap yang pasti, apakah Anda ingin menyetujui atau tidak. Jika Anda belum yakin dengan pilihan Anda, maka Anda bisa minta kesempatan berpikir sampai mendapatkan kepastian. Jika Anda sudah merasa yakin dan pasti akan pilihan Anda sendiri, maka akan lebih mudah menyatakannya dan Anda juga merasa lebih percaya diri.
• Jika belum jelas dengan apa yang dimintakan pada Anda, bertanyalah untuk mendapatkan kejelasan atau klarifikasi.
• Berikan penjelasan atas penolakan Anda secara singkat, jelas, dan logis. Penjelasan yang panjang lebar hanya akan mengundang argumentasi pihak lain.
• Gunakan kata-kata yang tegas, seperti secara langsung mengatakan “tidak” untuk penolakan, dari pada “sepertinya saya kurang setuju..sepertinya saya kurang sependapat…saya kurang bisa…..”
• Pastikan pula, bahwa sikap tubuh Anda juga mengekspresikan atau mencerminkan “bahasa” yang sama dengan pikiran dan verbalisasi Anda… Seringkali orang tanpa sadar menolak permintaan orang lain namun dengan sikap yang bertolak belakang, seperti tertawa-tawa dan tersenyum.
• Gunakan kata-kata “Saya tidak akan….” atau “Saya sudah memutuskan untuk…..” dari pada “Saya sulit….”. Karena kata-kata “saya sudah memutuskan untuk….” lebih menunjukkan sikap tegas atas sikap yang Anda tunjukkan.
• Jika Anda berhadapan dengan seseorang yang terus menerus mendesak Anda padahal Anda juga sudah berulang kali menolak, maka alternatif sikap atau tindakan yang dapat Anda lakukan : mendiamkan, mengalihkan pembicaraan, atau bahkan menghentikan percakapan.
• Anda tidak perlu meminta maaf atas penolakan yang Anda sampaikan (karena Anda berpikir hal itu akan menyakiti atau tidak mengenakkan buat orang lain)… Sebenarnya, akan lebih baik Anda katakan dengan penuh empati seperti : “ saya mengerti bahwa berita ini tidak menyenangkan bagimu…..tapi secara terus terang saya sudah memutuskan untuk …”
• Janganlah mudah merasa bersalah ! Anda tidak bertanggung jawab atas kehidupan orang lain…atau atas kebahagiaan orang lain, bukan…..
• Anda bisa bernegosiasi dengan pihak lain agar kedua belah pihak mendapatkan jalan tengahnya, tanpa harus mengorbankan perasaan, keinginan dan kepentingan masing-masing.



TUGAS !

1. Bentuklah kelompok dengan anggota 6 orang. Buatlah skenario tentang perilaku asertif. Kemudian tampilkan di depan kelas dalam bentuk sosiodrama
2. Berikut ini beberapa contoh kalimat yang menyerang berilah komentar apakah kalimat dalam ilustrasi tersebut sebagai sikap asertif atau agresif :

Dialog Agresif
Percakapan Dimas (6 tahun) dan papanya, "Dimas, kamu ini
bagaimana? Makin besar makin malas bangun pagi! Lihat, sudah siang masih molor

Dialog Asertif : .....................

Percakapan Kevin (8 tahun) dan mamanya, "Mengapa kamu tidak
beritahu Mama kalau sepatumu sudah robek? Bikin malu aja!"
Dialog Asertif : ......................

Ibunya Ina (10 tahun) memarahi anaknya pada suatu pagi, "Nah,
kamu lupa bikin PR lagi, kan? Tadi malam mama sudah bilang
Dialog Asertif : ........................

Mirza (11 tahun) berbicara dengan saya, "Ma, tiap kali aku
ngajak ngomong, Mama nggak perhatikan aku dengan baik. Muka mama ditaruh mana?
Dialog Asertif : .......................

Daud (10 tahun) dan abangnya Januar (14 tahun), "Mengapa sih
kamu begitu, Bang? Aku enggak suka kamu terus melecehkan
Dialog Asertif : .......................

3. Berikut ada beberapa kejadian, berikan respon pada ilustrasi kejadian tersebut :

Peristiwa :
1. Seseorang mendahului Anda dalam antrean di swalayan.
Respon Anda : ...................
Penilaian : ...................

2. Teman Anda yang senang bicara bertele-tele, menelepon
untuk curhat tentang pengalaman buruk yang sedang dialaminya.
Sayangnya, Anda sedang banyak tugas yang harus diselesaikan dalam
waktu dekat dan Anda tidak punya banyak waktu untuk berbicara.
Respon Anda : ...................
Penilaian : ...................

3. Pacar Anda meminta bulti kesetiaan cinta anda dengan cara yang melanggar Agama
Respon Anda : ...................
Penilaian : ...................

4. Teman Anda mengajak ke bepergian ke luar kota tanpa ijin kepada orang tua
Respon Anda : ...................
Penilaian : ...................

5. Ada teman yang mengajak membolos
Respon Anda : ...................
Penilaian : ...................

6. Ada teman yang mengajak untuk mengkonsumsi NAPZA
Respon Anda : ...................
Penilaian : ...................

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar